Tose Dan Pengamat: Pilkada Mura Politik Uang Atau Identitas

0 265
Spread the love

“Jangan salah memilih pemimpin” ini kata yang sering didengar dari sekelompok masyarakat yang cerdas dalam menyikapi setiap menjelang masa pemilihan kepala daerah. Khusus nya Pilkada Kabupaten Musi Rawas tahun 2020 mendatang yang menjadi pertanyaan adalah kuat mana antara politik uang atau identitas?

Momen Pilkada Kabupaten Musi Rawas 2020 saat ini tengah menjadi sorotan sebagian para makelar (broker) politik. Pilkada Mura mendatang bagi para broker adalah ladang empuk mengais dan menguras uang para kandidat baik petahana maupun penantang petahana dengan alasan mereka memiliki massa pemilih dan sekaligus bisa menghubungkan kandidat dengan sang pemilih, hal ini dikarenakan kandidat tidak memiliki massa dan harus membangun jaringan.

Salah satu sahabat penulis, Ahmad Tarsusi, menyikapi Pilkada Kabupaten Musi Musi Rawas mendatang, Dia mengatakan bukan politik uang yang di kedepankan tetapi Dia lebih mengeksploitasi sentimen agama dan kesukuan.

“Saya lebih condong ke politik identitas”, kata nya.

Menurut nya, khusus Pilkada Mura 75% mayoritas masyarakat Musi menginginkan orang Musi maju dalam pilkada 2020 yang akan datang, baik sebagai calon bupati/wakil bupati. Orang Musi sudah ada yang pernah menjadi bupati bahkan pernah menjadi Gubernur dan itu berhasil. Bagi orang Musi kesukuan ini sangat jelas dan 60% suara DPT Musirawas mayoritas suara orang Musi.

“Orang Musi selalu menjaga kekompakan dan memiliki loyalitas yang tinggi serta di kenal dengan jiwa kepemimpinan nya”, ujar Ahmad Tarsusi alias Tose selaku tokoh muda dan kaum milenial.

Lanjutnya, saat ini kami akan mendorong tokoh Musi baik dari kalangan pemuda milenial, politisi senior maupun tokoh-tokoh masyararakat yang kami anggap mampu memimpin Musirawas dan menjadikan Musirawas lebih baik lagi, sebut Tose.

Menghadapi Pilkada Mura 2020, kami akan ambil peran demi kemajuan Musirawas 5 tahun kedepan, kita akan lakukan silaturahim dan diskusi bersama tokoh pemuda, tokoh masyarakat, tokoh agama serta para politisi dari Musi, untuk menyatukan visi/misi.

“Musi Bersatu, kalau bukan sekarang kapan lagi, orang Musi harus memimpin,” harap nya.

Menyikapi politik uang pada Pilkada Mura mendatang, menurut Taufik Gonda sebagai pengamat politik lokal, berpendapat “politik uang itu gampang-gampang susah”. Jika hal ini ditanyakan kepada politikus maupun calon kandidat Bupati Mura mendatang semuanya pasti akan menyangkal tidak akan melakukan politik uang.

“Kalau saya tidak, entah kandidat lain nya” ini berarti banyak yang condong melakukan politik uang,” kata nya.

Umumnya kandidat akan melakukan apa saja untuk menang. Selain uang, apa pun di eksploitasi mulai dari sentimen etnis, agama, kesukuan dan lain nya. Analisa Saya “politik uang dan identitas akan bermain disini,”

Sementara, untuk pemilih lokal sendiri antara politik identitas dan politik uang, lebih dominan politik uang. Peran uang amat strategis dalam pemilihan. Tawaran uang tidak hanya datang dari satu calon, siapa yang memberi lebih tinggi suaranya akan diberikan, seloroh Taufik Gonda.

“Usul Saya sebaiknya kandidat cabup mendatang memilih mengeksploitasi politik identitas. Jika dilihat dari sisi pembiayaan lebih murah dalam memobilisasi pemilih. Namun, tetap ada risiko yang sangat tinggi. Karena politik identitas itu politik pengelompokan dan pembelahan”, pungkas nya. (penulis)

Bagikan :
Kategori: Kabar Daerah
author
Media independent yang menyajikan berita-berita terkini melalui media online yang sesuai fakta dan berintegritas. Berita - berita unggulan untuk menjadi konsumsi masyarakat Indonesia .
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Tose Dan Pengamat: Pilkada Mura Politik Uang Atau Identitas"